Etos Kerja
Suami saya berasal dari Belanda. Sejak kecil dia mempunyai minat pada bangunan, baik bangunan besejarah maupun bangunan baru. Dia menyukai suatu proses bagaimana bangunan itu dari hanya sebuah gambar kemudian dapat terwujud menjadi sesuatu yang indah. Sayangnya minatnya kurang mendapat perhatian dari orang tuanya karena dia mempunyai kelainan pada matanya yang menurut saya tidak terlalu parah dan seharusnya dia mencapai sesuatu yang lebih untuk diraih. Orang tuanya terlalu melindungi anak semata wayangnya sehingga ruang geraknya sedikit sempit untuk meraih impiannya. Oleh karena itu suami saya memutuskan pindah ke Indonesia untuk menemukan jati dirinya.
Setelah menunggu lebih kurang 7 tahun akhhirnya kami mendapatakan kesesempatan untuk merenovasi rumah dan taman. Suami saya menggambar taman impiannya, tanpa meja gambar, dia menggambar di lantai. Dia merencanakan gambarnya dengan cermat sehingga taman yang ada dalam benaknya dapat terwujud menjadi benda yang nyata.
Kalau di Indonesia masalah terbesar adalah mencari tukang batu, tukang tembok dan tukang-tukang lain yang tepat. Tukang-tukang tesebut harus dapat membuat sesuatu sesuai dengan stardard suami. Suami saya tidak mempunyai latar belakang teknik tetapi menurut cerita dia, sejak dari sekolah TK dan SD suami saya sudah terbiasa bekerja dengan standard tinggi dan mereka juga dibekali dengan pengetahuan bagaimana membuat dan melakukan sesuatu dengan benar, aman dan awet. Sebelum mendapatkan tukang yang benar-benar bisa memenuhi dan tahan dengan requirement nya suami kami sudah beganti-ganti tukang. Suami saya lebih suka membayar harian karena jika ada yang salah dia tidak akan segan menyuruh membongkar. Akhirnya kami mendapatkan 3 orang yang bisa bekerja dengan suami saya dan mau belajar bekerja dengan standard tinggi dan kepada mereka setelah terjalin kerja sama yang bagus suami saya memberi imbalan diatas rata-rata. Tukang-tukang lainnya tidak tahan dengan standard tinggi yang ditetapkan suami saya, meskipun pada saat mereka harus membongkar dan memperbaiki kesalahannya, suami saya tetap membayar jam kerjanya. Artinya mereka punya kesempatan untuk belajar gratis. Aneh ya.
Sekarang rumah kami tinggal menyelesaikan car port dan kami berharap tukang-tukang yang telah bekerja dengan suami selama 3 tahun akan mendapatkan banyak orderan yang tentunya dibayar dengan standard tinggi. Karena tukang-tukang tersebut menjadi punya ketrampilan lebih dengan bekerja di bawah pengawasan suami dan yang paling penting mereka mau belajar untuk meningkatkan kualitas diri masing-masing.
Batu alam yang terpasang di rumah kami hasilnya sangat berbeda dengan batu alam yang terpasang di rumah lain pada umumnya. Bahan baku sama tetapi cara pengerjaan yang bebeda hasilnya juga akan berbeda.
Masalah terbesar di Indonesia dalam menghasilkan produk berkualitas adalah masalah etos kerja. Kebanyakan pekerja hanya memikirkan cari uang tetapi mereka tidak mau belajar meningkatkan kapasitas mereka. Yang membuat para pengusaha jengah juga terkadang mereka hanya memikirkan uangnya saja tetapi malas untuk bekerja. Kalau bisa mereka dapat gaji tanpa bekerja, atau dapat gaji tapi liburnya banyak, kontribusi untuk memajukan usaha nol….
Jika keadaan ini tidak berubah kita tidak akan bisa bersaing di pasar global. Katanya pengangguran banyak, tapi saya mencari penjahit atau tukang potong yang bagus dan sesuai standar butik susahnya minta ampun. Banyak lapangan kerja yang tidak bisa diserap oleh pencari kerja, karena kesadaran untuk belajar menjadi orang yang lebih berkualitas sama sekali tidak ada.
oleh : www.butikgayaku.com
posted in Business | 0 Comments



















